4D3N Medan (North Sumatera) Trip

October 28, 2016

Halo! Finally saya bisa jalan-jalan lagi setelah sekian lama berkutat dengan pekerjaan tanpa liburan. Akhirnya di bulan Oktober, saya bisa menginjakan kaki di Sumatera Utara.
Atap khas di rumah-rumah masyarakat Medan
Sejujurnya, untuk trip 4D3N ke Medan kali ini saya terima beres saja. Mulai dari pembuatan itinerary, penyewaan mobil, pencarian hotel, pencarian info tempat wisata atau tempat makanan apa saja di Medan, dan hal-hal lainnya yang bikin repot. Kebetulan, salah satu teman seperjalanan saya lah yang menyusun semua hal tersebut.

Saya menghabiskan waktu selama 4 hari 3 malam di Medan, sudah termasuk ke Pulau Samosir yang terkenal dengan Danau Toba nya. Seperti biasa, kami selalu ambil flight paling pagi dari Jakarta, supaya bisa langsung jalan-jalan (kami selalu late check in di hotel).

Ada beberapa tempat wisata yang kami datangi. Kami juga sempat melakukan wisata kuliner di Medan, Sumatera Utara, yang bisa kamu baca disini.

Tempat wisata yang kami kunjungi berdasarkan urutan hari adalah sebagai berikut:

Istana Maimun
Begitu landing di Medan jam 10 pagi, kami langsung pergi ke Istana Maimun, yaitu istana Kesultanan Deli yang saat ini sudah dialihfungsikan jadi tempat wisata. Tetapi, keluarga Sultan saat ini juga masih tinggal di komplek tersebut. Rumah keluarga beliau ada di sebelah Istana Maimun (ini area terlarang yang tidak bisa dikunjungi, bukan untuk umum).

Graha Maria Annai Velangkani
Graha ini adalah gereja katolik dengan bangunan bergaya China dan India. Saat ini gereja masih aktif digunakan untuk kebaktian, tapi terbuka untuk siapa saja yang mau datang untuk beribadah atau sekedar melihat-lihat. Tapi kalian tidak diizinkan untuk memotret bagian ruang ibadah apabila sedang digunakan. Kalau memang sangat ingin berfoto, kamu harus minta izin dulu sama penjaga disana (penjaganya orang India by the way. Beliau juga tidak keberatan untuk jadi tour guide kami lho, tanpa dipungut biaya).


Parapat
Perjalanan hari pertama selesai dan kami lanjut dari pusat kota Medan ke Parapat, yang memakan waktu selama 4 jam dengan berkendara mobil. Di hari pertama ini, saya kebetulan menginap di Pandu Lakeside Hotel Parapat, yang view kamarnya benar-benar langsung menghadap ke Danau Toba. Kamarnya standar, namun pemandangan dan rasa capek kami membuat kami tidak terlalu peduli lagi selain bertemu bantal dan kasur.
Pemandangan di Depan Kamar Hotel
View Danau Toba dari taman Hotel

Pulau Samosir dan Danau Toba
Setelah breakfast di hotel, kami lanjut ke pelabuhan Ajibata yang letaknya tidak jauh dari hotel. Tujuannya supaya kami bisa naik kapal ferry yang harganya cuma IDR 8K untuk sekali jalan menyebrangi Danau Toba ke Pulau Samosir.




Di pulau Samosir, kamu bisa jalan-jalan di Kampung Tomok, lihat replika rumah adat suku batak dan Patung Menari Si Gale-Gale. Dipastikan, patung Gale-gale ini bisa “menari” dengan sendirinya saat upacara adat tertentu (kekuatan magis). Adapun gerakan menari si Gale-Gale ini menginspirasi tarian tradisional Medan, tari tor-tor.
Patung Menari si Gale-Gale
Replika Rumah Adat Suku Batak
Kamu juga bisa membeli oleh-oleh di Kampung Tomok
Air Terjun Sepiso-piso
Sudah puas explore Pulau Samosir, kami kembali ke Parapat dengan naik kapal ferry dan melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Sepiso-piso. Dari Parapat, lokasi air terjun sepiso-piso masih memakan waktu kurang lebih selama 2 jam. Dari lokasi ini, saya bisa lihat danau toba dari atas. Jika kamu mengunjungi air terjun sepiso-piso, saya sarankan kamu membawa jaket karena udaranya sangat dingin dan berangin (maklum sudah masuk ke kawasan perbukitan jadi udaranya dingin).
Air Terjun Sepiso-piso

Air Terjun Sepiso-piso

Danau Toba tampak dari lokasi Air Terjun Sepiso-piso


Brastagi
Dari air terjun sepiso-piso, kami lanjut ke daerah Brastagi. Brastagi ini ibaratnya Lembang di Bandung. Udaranya dingin, dan banyak pilihan hotel disana. Di malam kedua, saya menginap di Mikie Holiday Resort, hotel yang menurut saya cukup mewah untuk travel on budget kami kali ini. Breakfastnya disediakan buffet, wifi bisa diakses dari kamar, juga ada saluran tv kabel. Perfecto!

Bukit Gundaling
Setelah puas breakfast sampai kenyang di Mikie Holiday Resort, saya melanjutkan perjalanan ke Bukit Gundaling. Sayangnya, di pagi hari yang mendung itu kami dapat info bahwa semalam saat kami tertidur lelap, Gunung Sinabung erupsi dan diperparah dengan hujan deras. But, even the weather isn’t too good, we still keep in track in our itinerary plan.
Bukit Gundaling
Di Bukit Gundaling, saya sempat merasakan yang namanya hujan abu dari Gunung Sinabung. Saat ini kami kompak mengenakan masker dan penutup kepala. Kami sempat merasa kecewa juga sebenarnya. Namun alam memang tidak bisa diatur sesuka hati kami. At least, saya bisa merasakan apa yang masyarakat sekitar Sinabung rasakan saat gunung itu meletus meskipun cuma sebagian kecil saja.

Taman Lumbini
Rencana awal setelah dari Bukit Gundaling, kami lanjut perjalanan ke Taman Lumbini. Taman Lumbini adalah vihara dengan arsiektur ala Thailand yang kelihatan mewah dan megah. Taman Lumbini ditutup hari itu karena sedang dalam proses pembersihan sisa-sisa hujan abu gunung Sinabung. Jadi saya cuma bisa foto-foto dari luar saja.


Kemudian kami memutuskan untuk meninggalkan daerah Brastagi dan kembali ke pusat kota Medan untuk makan siang. Kami juga menyempatkan wisata kuliner di pusat kota, yang bisa kamu baca dalam 8 Rekomendasi Wisata Kuliner di Medan.

Setelah puas kuliner, kami kembali ke hostel selanjutnya yang kami pesan, yaitu Permata Inn. Bentuk kamarnya mengingatkan saya akan kost-kostan pas kuliah tapi sangat bersih dan suasanya tenang meskipun letak hotelnya ada di pinggir jalan raya. Ini merupakan hari terakhir kami berada di Sumatera Utara, sebelum akhirnya kami membeli oleh-oleh dan kembali ke kota asal kami.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe