I'M TURNING 25, SINGLE, AND (NOT) FREAKING OUT

July 15, 2017


Oh my god! I'm turning 25 this year!
How the hell did I get to be this damn old! I'm sure it was only last year that I left college life.

Everyone freaks out about this birthday, especially para ciwi-ciwi--alias wanita di Indonesia. Kebanyakan orang akan berpikir di usia ke 25 bukan saatnya lagi main-main; bukan saatnya lagi berfoya-foya, harus cari jodoh lebih serius *halah*, harus cari uang lebih serius untuk persiapan berumahtangga *eeaaa*, harus pintar-pintar pilih pekerjaan, harus pintar-pintar pilih teman, harus bisa bedakan mana yang prioritas dan mana yang bukan, harus belajar urusan dapur, dan sebagainya dan sebagainya. Pokoknya, usia 25 untuk wanita ibarat batas akhir mendekati kiamat, dimana kamu harus mulai berpikir serius, serius, dan... waktunya banyak-banyak berdoa (supaya kuat menghadapi berbagai cobaan; misalnya menghadapi pertanyaan “kapan menikah?”, “mana pacarnya?”, “sendirian aja?” saat kumpul-kumpul keluarga besar atau saat ke undangan pernikahan teman).

Bertambahnya usia ke 25 adalah perjalanan yang luar biasa exciting sekaligus menyeramkan. Di usia ke 25, tanggung jawab dan keputusan yang saya ambil bukan hanya tentang diri saya sendiri, tapi juga ada pertimbangan-pertimbangan lain seperti keluarga dan lain sebagainya. Di usia ke 25, saya sudah mulai memikirkan resiko apa saja yang akan dihadapi pada tiap keputusan yang saya ambil. Namun di sisi lain, di usia saya ke 25 saya malah tambah ngotot untuk mengejar mimpi-mimpi saya. Mimpi saya? Banyak. Waktu? Saya punya. Tenaga? Puji Tuhan saya bukan orang penyakitan. Karir? Ini juga puji Tuhan, saya diberkati dengan pekerjaan oke dan cukup untuk menghidupi diri saya sendiri. Jodoh? Ehm... saya yakin saya akan menemukan jodoh di saat yang tepat *nyengir*.

I know that it's okay to want a relationship, but I know that it takes work. Mencari jodoh, meskipun dilakukan secara santai tapi serius, sudah pasti berbeda dengan pencarian jodoh ala-ala anak sekolahan. Menjalin hubungan dengan seseorang yang sistemnya putus-nyambung, HTS-an lah, TTM-an lah-entah apalah sebutannya sekarang, menjadi sesuatu yang kami--para wanita di usia 25--hindari. Unyu-unyu things won't pay the bills. Hard work will. Saya tidak lagi memandang seseorang-yang dulu disebut sebagai tipe pacar idaman (harus tinggi lah, harus punya ini lah, harus itulah, harus beginilah, dsb)-menjadi suatu keharusan. Di usia 25, pencarian jodoh tidak melulu perihal rasa, tapi juga logika dan pertimbangan.

Bukan berarti saya dan para wanita lainnya berusia 25 yang masih lajang (dan bahagia), berubah menjadi tante-tante wanita matrealistis yang mencari pria-pria mapan lengkap dengan asisten rumah tangga, rumah mewah, dan mobil lebih dari satu (terserah deh dari hasil kerja keras sendiri atau hasil kerja keras orang tuanya). Saya pribadi merasa wanita di usia 25 akan cenderung melihat lawan jenis dari sisi kepribadian, sikap dan sifat yang sekiranya akan cocok jika berlanjut ke jenjang pernikahan *tsahelah*. Ini sih baru pemikiran saya saja, kalau salah... ya mohon dimaafkan *peace*.

Still, it's okay to be single too. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung para wanita usia 25 tahun diluar sana yang sudah menikah dan punya anak. Itu adalah hal yang baik, dan juga pilihan masing-masing individu. Jika kamu bahagia dalam pernikahan, maka bersyukurlah. Tapi jika kamu memang merasa nyaman dengan diri kamu saat ini, meskipun tanpa adanya pasangan, maka lanjutkanlah. Toh ini hidupmu dan kamu pula yang menjalankannya. Semua resiko ditanggung sendiri, kan?

Untuk saya pribadi, saya tidak mengutamakan pernikahan sebagai tolok ukur kesuksesan hidup saya saat ini; tidak juga sebagai achievement yang harus saya kejar sekuat tenaga. Pernikahan ada di daftar sekian untuk saya, selagi saya menyiapkan diri saya untuk benar-benar memfokuskan diri pada pernikahan, untuk hidup hanya dengan satu orang saja sampai akhir hayat, lengkap dengan embel-embel di belakangnya: suami... mama dan papa mertua (hiiy!).

Tidak ada salahnya kamu tidak mengikuti “tradisi menikah di usia 25” selama tidak menganggu kepentingan umum. Saya belum menikah di usia 25, adalah pilihan saya sendiri. Saya masih lajang di usia 25, juga adalah pilihan saya sendiri. Pernah ada yang nyeleneh, meskipun dengan nada bercanda “lo masih suka cowok, kan?”, “mau cari yang kayak gimana sih, nanti keburu tua lo!”, “udah, gak usah lama-lama, langsung nikah aja sana!”. Hei, mbak, bu, tante, kakak, eyang, om, bapak, saat ini saya terus berusaha mengejar mimpi-mimpi saya, berusaha membahagiakan kedua orang tua dan adik-adik saya, dan bahagia dengan kehidupan saya. Saya memang sedang mencari jodoh, secara tenang dan tidak gegabah.

Di usia saya yang ke-25, saya mulai belajar untuk berhenti overthinking. Saya memantapkan hati untuk menjalankan kehidupan penuh berkat. Tidak muluk-muluk, juga tidak penuh drama. Saat teman sebaya saya yang lain sedang mempersiapkan pernikahan mereka, atau ada juga yang sedang bahagia-bahagianya karena akan punya anak, saya disini bekerja, berkenalan dengan banyak orang, bertemu dengan teman-teman lama, sekaligus merayakan bertambahnya usia bersama sahabat terdekat dengan cara yang luar biasa (perayaan ini akan saya bahas di post selanjutnya). Saya ikut bahagia karena teman-teman sebaya saya bahagia dengan kehidupan pernikahan mereka, dan saya juga bahagia dengan kehidupan saya saat ini.

Image Source: Pinterest

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe