My Brother Passed Away Right Before My 25th Birthday

July 22, 2017

Periode 18-21 Juli 2017 adalah hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya ingat betul, saya sudah merencanakan untuk merayakan hari ulang tahun saya ke-25 yang jatuh pada tanggal 19 Juli bersama sahabat dan keluarga saya. Bukan karena saya anak kecil yang menginginkan perayaan hari kelahiran setiap tahunnya, melainkan karena alasan-alasan tertentu yang sebelumnya sudah saya ceritakan (baca: I’m turning 25 and (not) freaking out).

Tapi Tuhan punya rencana lain. Tanggal 18 Juli pagi, saya terbangun karena teriakan keras Papa di kamar sebelah. Saya tidak bisa mendengar dengan jelas ucapan Papa saya waktu itu, tapi saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Entah bagaimana, seluruh panca indera saya langsung siaga meskipun mata saya baru terbuka. Begitu saya sampai di kamar orang tua saya, saya melihat Mama sudah menangis sambil memegangi adik laki-laki saya. Begitu pun adik perempuan saya yang juga menangis di sebelahnya.

Saya segera menyadari apa yang terjadi saat melihat wajah adik laki-laki saya yang pucat dengan bibir membiru. Wajahnya tampak tenang, sama seperti wajahnya saat tertidur semalam. Namun tidak terdengar suara ngoroknya seperti biasa, tidak juga terasa napas dan detak jantungnya. Kami menyebut “dede, bangun” berkali-kali, tapi tidak ada respon. Jari-jari tangan dan kakinya sudah mendingin dan lemas, namun bagian tubuhnya yang lain masih terasa hangat. Tepat tanggal 18 Juli 2017 pukul 07.00, saya mendapati adik laki-laki saya sudah meninggal dalam tidurnya.

Menangislah kami sekeluarga sejadi-jadinya. Papa segera berlari ke seberang rumah, ke sebuah klinik kecil tempat dokter siaga berada. Tak lama mereka datang, mengecek detak jantung dan napas adik saya dengan stetoskop, dan mengatakan dengan jelas bahwa adik laki-laki saya sudah tiada.

Dalam keadaan menangis, saya masih bersikukuh, berkata kepada dokter dan suster, “Tapi badannya masih hangat, coba pakai alat kejut jantung!”. Tapi mereka menjawab kalau mereka tidak punya alat seperti itu. Mereka menyarankan untuk segera pesan ambulans saja dan mencari Rumah Sakit yang lebih memadai.

Saya telepon ke RS. Juliana (yang lokasinya paling dekat dengan rumah), tidak ada jawaban. Telepon ke ke RS. Bogor Medical Center (RS dimana adik laki-laki saya biasa berobat tiap bulannya), penerima telepon berkata bahwa ambulans sudah di booking oleh pasien rawat inap untuk pindah Rumah Sakit dan tidak bisa digunakan untuk saya karena mereka hanya punya satu armada saja (what the f***). Saya langsung tutup teleponnya tanpa bilang apapun. Saya juga telepon ke RS. Azra, juga tidak ada jawaban.

Saya dan adik perempuan saya, meminta kepada Papa untuk membawa adik laki-laki kami ke Rumah Sakit. Terbesit sedikit harapan kalau adik kami masih bisa diselamatkan. Saya dan adik perempuan saya mengangkat tubuh adik laki-laki kami yang terkulai lemas, kemudian dibantu Papa yang menggendongnya, masuk ke dalam mobil dalam keadaan menangis, menuju RS. Juliana (yang berjarak hanya 10 menit dari rumah). Sedangkan Mama, karena keterbatasan penglihatan dan gerakan yang tidak memungkinkan, menunggu di rumah selagi kami membawa si bungsu ke RS.

Di RS. Juliana, dokter segera menyiapkan mesin EKG. Sebagian alat sudah dipasang di tangan dan kaki adik saya, namun garis di mesin EKG tetap menunjukkan garis lurus tanpa cela. Dokter bilang, mesin EKG itu baru bisa bekerja untuk “mengejutkan” jantung apabila kaki adik saya bisa diposisikan dalam keadaan lurus. Karena penyakit cerebral palsy yang diderita adik saya, kaki adik saya memang tidak bisa diluruskan. Penggunaan mesin EKG pun tidak bisa dilakukan. Dari lebam yang ada di tangan adik saya, dokter bilang kemungkinan adik kami sudah meninggal sekitar 30 menit yang lalu. Sekali lagi, saya dan adik perempuan saya mendengar dokter berkata bahwa adik kami sudah tiada dan tidak bisa diselamatkan.

Hancurlah harapan terakhir kami. Tidak ada pertanda apapun yang kami rasakan tadi malam. Ingin rasanya langsung mengikhlaskan kepergian adik kami, tetapi air mata seolah tidak mau berhenti keluar. Kami menangis dalam diam, takut mengganggu pasien-pasien lain yang kebetulan ada di UGD.

Sambil menunggu mobil jenazah dari Rumah Duka menjemput, saya memeluk adik laki-laki saya, memegangi bagian-bagian tubuhnya yang masih terasa hangat sampai hangatnya perlahan menghilang.

Di rumah duka, adik saya dimandikan, dipakaikan pakaian bagus dan baru, dan dipindahkan ke dalam peti. Penutupan peti dilakukan di hari yang sama, kemudian dimakamkan esok lusanya, tepat pada tanggal 20 Juli 2017.

Kami kehilangan. Kami berduka. Kami bersedih. Namun kami sekeluarga percaya, Dede sudah berada di rumah Bapa di Surga, duduk dan tinggal di tempat yang indah, tanpa rasa sakit, tanpa perlu minum obat, bisa berjalan bahkan berlari, bisa berbicara bahkan menyanyi, sambil tersenyum dengan senyuman yang kami ingat seperti biasanya.

JOHN 11:25
Jesus said to her, “I am the resurrection and the life. The one who believes in me will live, even though they die,”
Our Beloved Brother
Christianto Tanudjaja
27-04-2000 - 18-07-2017

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe